Sabtu, 25 Juni 2011

No Title Part 1

Kubiarkan senyumku
Menari di udara
Biar semua tau
Kematian tak mengakhiri
Cintaaa.......

***

Hujan turun dengan derasnya seiring kepergian kekasih hati gadis ini. Air mata terus bercucuran dari matanya. Meratapi kepergian kekasih yang dicintainya. Sudah 1 jam berlalu pemakaman, namun dia tak kunjung beranjak dari sana.
"Depa. Kamu katanya gak mau ninggalin aku! Kok kamu pergi secepat gini? Mana coba janji kamu? Depa jahat. Udah ngingkarin janjinya," Ucap Gadis ini sesekali tersenyum, namun kemudian menangis terisak. Mungkin, masih tak terima kekasih hatinya itu pergi secepat ini. Depresi.
"Depa bohong loh. Depa nanti masuk neraka!" Ujarnya lagi sambil tertawa. Tak menghiraukan air hujan yang terus menimpa dirinya.
"Depa jahat," Ucapnya terisak. Sambil memukul makam yang didepannya itu. Kasihan. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya. Namun, sama sekali tak dihiraukannya.
"Sendal. Lo udah terlalu lama disini. Lo juga hujan-hujanan. Lo gak takut sakit? Lo juga mau ngeliat Depa sedih atas perlakuan lo ini?" Tanyanya tajam. Kata-katanya sedikit menusuk. Gadis yang bernama Sendal itu lalu menoleh ke wajah orang tersebut, memperhatikannya sebentar.
"Lo gak tau gimana rasanya jadi gue,Kak! Lo gak tau dan gak akan pernah tau gimana rasanya ditinggal pergi kekasih, ditinggal pergi orang yang kita sayang! Orang yang kita cinta!" Ucap Sendal penuh derai air mata. Lalu pergi dari sana dan meninggalkan kakaknya itu.
"Sendal," Teriak kakaknya berusaha memanggil adiknya itu. Namun Sendal tak menghiraukannya.

***

Sendal berjalan dan terus berjalan tanpa arah dan tujuan. Tetap berjalan mengikuti kemana langkah kakinya pergi. Kemudian ia merasa kepalanya sedikit pusing, Penyakit yang ia derita mungkin akan segera kambuh, namun dia tak menghiraukan penyakitnya itu. Dan tetap menelusuri jalan sesuai mengikuti petunjuk hatinya.
"Gue kangen lo Depa," Teriak Sendal dijalan yang sunyi sepi itu. Mengeluarkan dan melegakan sedikit hatinya. Namun, pandangannya mulai gelap dan semua menjadi hitam.

***

"Dimana ini?" Tanya Sendal saat membuka matanya. Bangun dari pingsannya. Ruangan yang mungkin sangat asing yang tak dikenali olehnya. Dilihatnya sekeliling dan berhenti pada sosok laki-laki disampingnya yang sedang tersenyum.
"Lo siapa?" Tanya Sendal lalu mencoba untuk bangun.
"Eits, lo gak boleh bangun dulu. Lo harus tetap berbaring sampai lo kuat total," Larang orang itu lalu membaringkan Sendal lagi.
"Gue Kepin, Lo siapa?" Ucap dan Tanya orang itu. Sendal mengernyitkan dahinya.
"Sendal," Jawabnya singkat. Orang itu hanya ber'O' ria.
"Udah makan? Pasti belum. Soalnya muka lo pucet gitu," Tebak Kepin.
"Enggak kok, gue udah makan. Makasih," Ucap Sendal tersenyum. Namun, tebakan Kepin memang benar. Bahwa ia belum makan sejak tadi pagi sampai sore sekarang. Namun, Sendal tak ingin merepotkan orang yang baru dikenalnya.
"Yakin?" Tanya Kepin memastikan. Sendal mengangguk.
"Oh. Baguslah," Ucap Kepin. Tidak berapa lama masuk seorang cowok yang sepertinya seumuran sama Kepin.
"Pin, itu siapa?" Tanya Cowok itu sambil memperhatikan Sendal.
"Oh, dia Sendal. Kenapa? Naksir?" Goda Kepin. Cowok tersebut menggeleng.
"Oiya,Ndal. Dia Ojy. Kembaran gue," Ucap Kepin memperkenalkan Cowok tersebut.
"Gue Ojy," Ucapnya memperkenalkan diri.
"Sendal,"
"Yaudah, gue keluar dulu ya,Pin. Ada urusan." Ucap Ojy. Lalu keluar dari kamar tersebut.
"Oiya. Lo kenapa hujan-hujanan? Terus gue liat lo juga keluar dari Pemakaman didepan sana lagi," Ucap Kepin. Sendal yang sebelumnya lupa. Kini ingat kembali apa kejadian yang baru saja menimpanya.
"Gue... Pacar gue meninggal," Ucap Sendal tertunduk. Menahan air mata yang hampir jatuh dikelopak matanya.
"Hah? Ya ampun,Ndal. Gue gaktau. Gue minta maaf," Ucap Kepin yang merasa bersalah akibat perkataannya yang sebelumnya.
"Enggak papa kok," Ucap Sendal lirih.
"Yaudah, lo sekarang istirahat aja. Gue mau masak, ok?" Ucap Kepin. Sendal mengangguk.

***

"Panci. Adik lo kemana? Gue khawatir sama dia. Gue takut penyakit dia kambuh!" Ucap Villa panic. Pacar panci. Panci sebenarnya kakaknya Sendal.
"Gue gaktau. Gue juga takut, apalagi dia 1 Jam hujan-hujanan dimakam sana," Ucap Panci tak kalah panic. Adik kesayangannya itu pergi entah kemana.
"Yaudah, sekarang lo suruh bodyguard lo itu nyari Sendal. Gue takut dia kenapa-napa!" Suruh Villa pada Panci. Panci mengangguk lalu melaksanakan suruhan Villa.

***

Sendal dan Panci memang dua kakak beradik dari keluarga yang cukup kaya Raya. Hidup diiringi kemewahan. Apalagi Ayahnya mempunyai Perusahaan dimana-mana. Mamanya juga mempunyai 5 Butik yang tersebar di Jepang,Thailand,London,Korea,dan Canada :P. Jadi apa saja kebutuhan mereka selalu bisa terpenuhi.

***

"Aping. Aping," Panggil Senin pada Aping,Pacarnya.
"Iya?" Respon Aping lalu memandang wajah pacarnya itu.
"Kasihan ya Sendal. Dia harus kehilangan Depa. Padahal dia pacaran sama Depa sudah lumayan lama. Hampir 2 tahun. Tapi kok Tuhan malah ngambil Depa ya? Padahal Sendal kan baik," Ucap Senin dengan polosnya. Aping hanya tertawa kecil melihat kelakuan pacarnya yang masih sedikit kekanak-kanakan itu.
"Tuhan berarti sayang sama Sendal," Ucap Aping singkat.
"Lah? Kok gitu?" Tanya Senin tidak mengerti.
"Suatu saat nanti kamu mengerti,"

***

"Gue senang lo menderita,Ndal!"

***

Hayoloh??!!
Siapa yang senang Sendal menderita ya??
Next Part ya u,u

Tidak ada komentar:

Posting Komentar